Selasa, 07 April 2009

SAT II PELOPOR KORPS BRIMOB POLRI

Sat II Pelopor adalah Satuan Brimob yang secara struktural berada dibawah Korps Brimob Polri. Satuan ini mempunyai 4 Detasemen(Den) yang masing2 membawahi 5 kompi. Dulu, sebelum bernama Sat II Pelopor, satuan ini bernama Resimen I,yang mana mempunyai tugas/fungsi utama sebagai pasukan pemukul inti POLRI. Berbagai tempat di Indonesia pernah dipijak oleh anggota Sat II Pelopor.

Dari ujung barat sampai ke ujung timur Indonesia adalah wilayah tugas operasi. Wilayah yang pernah merakan nama besar Sat II Pelopor( yang waktu itu masih bernama Resimen I) adalah propinsi NAD. Bagaimana tidak, sejak bergolak yang diawali dengan Referendum, Resimen I telah dikirim ke wilayah itu.

Tidak sedikit korban yang jatuh dari anggota Resimen I. Tapi tidak sedikit pula satgas dari resimen ini yang menuai keberhasilan dalam misinya. Sebut saja satgas tiger..satgas rimeung.. Satgas tersebut mendapat sambutan yang baik bagi rakyat Aceh, meskipun ada juga oknum yang membuat nama baik kesatuan ini jadi agak buruk sedikit.

*)salah satu kemampuan Resimen I ato Sat II Pelopor: tugas tempur!

Tapi secara keseluruhan, nama Resimen I ato Sat II Pelopor ditakuti lawan dan disegani kawan.

*) PHH Brimob

Kemampuan lain yang dimiliki oleh satuan ini selain tugas tempur adalah pengendalian huru hara. Kemampuan yang dimiliki inilah menyebabkan kesatuan ini harus rela bolak-balik bogor-jakarta. Maklum..semenjak reformasi banyak demonstrasi yang berakhir pada unjuk rasa anarkhis. Dan kebanyakan demonstrasi seperti itu dilakukan di Jakarta.

Ada lagi kemampuan yang saat ini merupakan salah satu ciri khas Sat II Pelopor, yakni S.A.R. ato Search And Rescue. Kualifikasi SAR ini difokuskan pada salah satu Detasemennya dan dinamakan Tim DELTA. Tim Delta ini sudah berkecimpung di banyak upaya penyelamatan terhadap korban kecelakaan maupun bencana alam.

Rabu, 18 Maret 2009

Menghadapi gerakan separatis


Pada 1 Agustus 1947, Mobrig dijadikan satuan militer. Dalam kapasitasnya ini, Mobrig terlibat dalam mwenghadapi berbagai gejolak di dalam negeri. Pada tahun 1948, di bawah pimpinan Moehammad Jasin dan Inspektur Polisi II Imam Bachri bersama pasukan TNI berhasil menumpas pelaku Peristiwa Madiun di Madiun dan Blitar Selatan dalam Operasi Trisula. Mobrig juga dikerahkan dalam menghadapi gerakan separatis DI/TII di Jawa Barat yang dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo dan di Sulawesi Selatan dan Aceh yang dipimpin oleh Kahar Muzakar dan Daud Beureueh.

Pada awal tahun 1950 pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin Kapten Raymond Westerling menyerbu kota Bandung. Untuk menghadapinya, empat kompi Mobrig dikirim untuk menumpasnya.

Mobrig bersama pasukan TNI juga dikerahkan pada April 1950 ketika Andi Azis beserta pengikutnya dinyatakan sebagai pemberontak di Sulawesi Selatan. Kemudian ketika Dr. Soumokil memproklamirkan berdirinya RMS pada 23 April 1950, kompi-kompi tempur Mobrig kembali ditugasi menumpasnya.

Pada tahun 1953, Mobrig juga dikerahkan di Kalimantan Selatan untuk memadamkan pemberontakan rakyat yang dipimpin oleh Ibnu Hajar. Ketika Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) diumumkan pada 15 Februari 1958 dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai tokohnya, pemerintah pusat menggelar Operasi Tegas, Operasi Saptamarga dan Operasi 17 Agustus dengan mengerahkan Mobrig dan melalui pasukan-pasukan tempurnya yang lain. Batalyon Mobrig bersama pasukan-pasukan TNI berhasil mengatasi gerakan koreksi PRRI di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Timur, Riau dan Bengkulu.

Dalam Operasi Mena pada 11 Maret 1958 beberapa kompi tempur Mobrig melakukan serangan ke kubu-kubu pertahanan Permesta di Sulawesi Tengah dan Maluku.

Pada 14 November 1961 bersamaan dengan diterimanya Pataka Nugraha Sakanti Yana Utama, satuan Mobrig berubah menjadi Korps Brigade Mobil (Korps Brimob).

Brimob pernah terlibat dalam beberapa peristiwa penting seperti Konfrontasi dengan Malaysia tahun 1963 dan aneksasi Timor Timur tahun 1975. Brimob sampai sekarang ini kira-kira berkekuatan 30.000 personil, ditempatkan di bawah kewenangan Kepolisian Daerah masing-masing provinsi.

Di tahun 1981 Brimob membentuk sub unit baru yang disebut unit Penjinak Bahan Peledak (Jihandak).

Semenjak tahun 1992 Brimob pada dasarnya adalah organisasi militer para yang dilatih dan diorganisasikan dalam kesatuan-kesatuan militer. Brimob memiliki kekuatan sekitar 12.000 personel. Brigade ini fungsi utamanya adalah sebagai korps elite untuk menanggulangi situasi darurat, yakni membantu tugas kepolisian kewilayahan dan menangani kejahatan dengan tingkat intensitas tinggi yang menggunakan senjata api dan bahan peledak dalam operasi yang membutuhkan aksi yang cepat. Mereka diterjunkan dalam operasi pertahanan dan keamanan domestik, dan telah dilengkapi dengan perlengkapan anti huru-hara khusus. Mereka telah dilatih khusus untuk menangani demonstrasi massa. Semenjak huru-hara yang terjadi pada bulan Mei 1998, Pasukan Anti Huru-Hara (PHH) kini telah menerima latihan anti huru-hara khusus.Dan terus menerus melakukan pembaharuan dalam bidang materi pelaksanaan Pasukan Huru-Hara(PHH).

Beberapa elemen dari Brimob juga telah dilatih untuk melakukan operasi lintas udara. Dan juga sekarang sudah melakukan pelatiahan SAR(Search And Rescue)

The Times Of India Asia climate policy on track despite recession, polls


Text: NEW DELHI: Asia's biggest carbon emitters face dual challenges this year that risk undermining their fight against climate change -- a glo... (photo: WN / Aruna Mirasdar)